
Delta Post, Sidoarjo – Deretan rumah tua bergaya Indis di Dusun Kauman, Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, masih berdiri kokoh di tengah permukiman warga. Bangunan peninggalan kolonial Belanda itu bukan sekadar rumah lawas, melainkan penanda sejarah panjang perdagangan batik yang pernah berkembang di kawasan pesisir timur Kabupaten Sidoarjo.
Salah satu rumah tertua di kampung tersebut tercatat dibangun pada tahun 1818 atau diperkirakan telah berusia sekitar j keturunan pemilik pertama dan tetap mempertahankan bentuk asli bangunan.Ketua RW 01 Dusun Kauman, H. Nurkholis, mengatakan kawasan kampung tua di wilayahnya menyimpan puluhan bangunan peninggalan era kolonial yang masih bertahan hingga sekarang.
“Salah satu rumah tertua yang dibangun tahun 1818 sekarang ditempati generasi keempat. Kondisinya masih asli, hanya bagian atap dan genteng yang pernah diganti karena usia,” ujar Nurkholis, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, jumlah rumah tua di Dusun Kauman diperkirakan mencapai 60 hingga 70 bangunan. Sebagian besar masih mempertahankan arsitektur lama dengan ciri khas pintu dan jendela berukuran tinggi memanjang.
Selain rumah bertanda tahun 1818, sejumlah bangunan lain juga memiliki penanda tahun pembangunan berbeda, mulai 1903, 1915, 1919 hingga 1931.
Di balik keberadaan rumah-rumah kuno tersebut, tersimpan sejarah perdagangan batik Kedungcangkring yang pernah berjaya pada masanya. Kawasan itu disebut menjadi salah satu pusat perdagangan batik di wilayah timur Sidoarjo.

“Dulu banyak tamu dari Cina dan Arab datang untuk membeli Batik Kedungcangkring,” katanya.
Tak hanya dikenal sebagai kampung batik, kawasan tersebut juga diyakini pernah menjadi lokasi berkembangnya perserikatan dagang pengusaha pribumi, termasuk Sarekat Dagang Islam. Jejak sejarah itu masih terlihat melalui ukiran serta kaca grafis berlambang Sarekat Islam di salah satu rumah warga.
Peninggalan lain yang masih bertahan yakni sebuah rumah pompa air tahun 1920 yang berada di dekat pintu masuk kampung.
Kini, kawasan rumah kuno di Dusun Kauman mulai banyak mendapat perhatian dari komunitas pecinta sejarah hingga instansi pemerintah. Aktivitas penelusuran dan pendataan bangunan cagar budaya pun kerap dilakukan di lokasi tersebut.
“Hampir setiap bulan ada tamu datang. Minggu lalu juga ada dari Pemprov dan Kementerian Pariwisata melakukan penelusuran bangunan bersejarah,” ujar Nurkholis.
Warga berharap keberadaan rumah-rumah tua di Dusun Kauman tetap dilestarikan sebagai bagian dari warisan sejarah Kabupaten Sidoarjo sekaligus pengingat kejayaan perdagangan batik pada masa lampau. (ADP)
#RumahTuaSidoarjo
#Kedungcangkring
#BatikKedungcangkring











