Delta Post, Sidoarjo – Di tengah padatnya ritme pemerintahan, Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana, justru menambah satu babak penting dalam perjalanan kariernya. Ia resmi menyandang gelar sarjana Administrasi Negara dari Universitas Dr. Soetomo, usai mengikuti prosesi wisuda di Dyandra Convention Center, Minggu (26/4/2026).
Momen tersebut bukan sekadar seremoni akademik. Di ruang publik, capaian ini dibaca sebagai sinyal sekaligus ujian atas keseriusan pembenahan pelayanan publik di Sidoarjo. Harapan warga kini bertumpu pada sejauh mana ilmu yang diperoleh mampu diterjemahkan menjadi kebijakan yang lebih efektif.
Di sisi lain, keputusan menempuh pendidikan tinggi saat masih menjabat memunculkan ekspektasi yang tidak kecil. Publik menanti perubahan konkret, mulai dari penyederhanaan birokrasi hingga peningkatan kualitas layanan yang selama ini kerap dikeluhkan.
“Ilmu administrasi negara adalah napas pekerjaan saya sehari-hari. Saya ingin melayani masyarakat dengan dasar literasi yang kuat, tidak hanya mengandalkan intuisi,” kata Mimik.
Pilihan jurusan yang diambil dinilai selaras dengan kebutuhan daerah. Persoalan pelayanan publik di tingkat desa hingga efektivitas program pemerintah menuntut pendekatan yang tidak hanya praktis, tetapi juga berbasis analisis dan tata kelola yang terukur.
Namun, proses menuju capaian itu tidak berlangsung ringan. Di sela agenda pemerintahan yang padat rapat koordinasi, kunjungan lapangan, hingga kegiatan protokoler ia tetap menjalani perkuliahan. Waktu malam menjadi ruang belajarnya, saat aktivitas dinas mulai mereda.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana praktik dan teori berjalan beriringan. Pengalaman lapangan yang selama ini ia miliki dipertemukan dengan kerangka akademik, membentuk cara pandang baru dalam membaca persoalan birokrasi.Bagi Mimik, pendidikan bukan sekadar pelengkap jabatan. Ia menempatkan ilmu sebagai alat kerja untuk merumuskan sekaligus mengevaluasi kebijakan publik yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Sebelum terjun ke pemerintahan, ia dikenal aktif mendampingi warga di tingkat akar rumput. Pengalaman tersebut membangun kepekaan sosial, namun ia menyadari kompleksitas birokrasi tidak cukup dihadapi hanya dengan empati.
“Jangan pernah berhenti belajar karena mencari ilmu itu tidak ada garis akhirnya,” tambahnya memberi pesan bagi generasi muda.
Kini, sorotan tidak lagi pada prosesi wisuda, melainkan pada langkah lanjutan di ruang kebijakan. Gelar akademik yang diraih menjadi titik awal bagi tuntutan baru: menghadirkan pelayanan publik yang lebih cepat, transparan, dan berdampak langsung bagi masyarakat Sidoarjo. (AR)
#MimikIdayana
#Sidoarjo
#PelayananPublik












