Beranda / Sosial / Dari Ulekan ke Tanah Suci: Kisah Istoifah Aminah Menjemput Panggilan Haji

Dari Ulekan ke Tanah Suci: Kisah Istoifah Aminah Menjemput Panggilan Haji

Delta Post, Cirebon – Di tengah riuh aktivitas Kota Cirebon, ada cerita panjang yang tak kasat mata dari seorang perempuan sederhana yang setiap hari menggenggam ulekan. Bukan sekadar meracik bumbu rujak, Istoifah Aminah (57) diam-diam merangkai harapan yang baru terwujud setelah hampir tiga dekade.

Perempuan asal Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi ini dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 8 Mei 2026 melalui Kloter 23 Embarkasi Kertajati. Perjalanan itu bukan keputusan mendadak, melainkan hasil dari proses panjang sejak 1997.

Di balik kesederhanaannya sebagai pedagang rujak, Istoifah memikul peran sebagai tulang punggung keluarga. Penghasilan harian yang tak menentu tak membuatnya goyah, meski harus membagi antara kebutuhan hidup dan tabungan masa depan.

Namun, pilihan hidupnya jelas: mendahulukan anak-anak.‎ “Saya biayain anak-anak saya sekolah dulu, sampai mereka sarjana. Nah, selebihnya baru saya tabung benar-benar buat berangkat haji,” sambungnya.

Keputusan itu membuat mimpinya tertunda lama. Tabungan yang ia kumpulkan berasal dari sisa-sisa penghasilan harian, receh demi receh yang disisihkan dengan disiplin.‎

“Saya nabung dari tahun sembilan tujuh,” kenang Istoifah dengan suara bergetar di warung rujaknya. Jumat (24/4).

Perjalanan emosionalnya tak kalah panjang. Setiap musim haji tiba, ia hanya bisa menjadi penonton. Rombongan jemaah yang berangkat selalu menyisakan ruang kosong di hatinya.

Momen-momen itu menjadi penguat, bukan pelemah. Air mata yang jatuh berulang kali justru menjadi bahan bakar untuk terus bertahan.Kini, suasana itu berbalik. Jika dulu ia berdiri di pinggir jalan menyaksikan iring-iringan jemaah, tak lama lagi justru ia yang akan berada di dalam rombongan tersebut.

Persiapan pun mulai dilakukan. Dari pakaian ihram hingga kebutuhan kecil seperti obat-obatan dan camilan, semua disiapkan dengan cermat. Kesederhanaannya tetap terlihat, bahkan menjelang perjalanan besar dalam hidupnya.

Bagi Istoifah, ibadah haji bukan hanya tentang menunaikan rukun Islam kelima. Lebih dari itu, ini adalah jawaban atas doa panjang yang tak pernah putus.

‎”Saya gak bisa berkata-kata. Jika ingat semua ini, saya selalu meneteskan air mata. Gak nyangka akhirnya bisa naik haji. Mungkin Allah SWT akhirnya mengabulkan doa-doa saya,” ungkapnya sembari menyeka sudut mata.

Saat ditanya tentang harapannya di depan Baitullah, jawabannya sederhana namun sarat makna. “Minta panjang umur yang berkah, kemudahan dalam segala urusan, dan kelancaran ibadah hingga kembali ke tanah air. Aamiin,” harapnya.

Kisah Istoifah Aminah menjadi gambaran bahwa keteguhan dan kesabaran mampu menembus batas waktu. Ia bukan sekadar pedagang rujak, tetapi simbol dari keyakinan yang dijaga dalam diam hingga akhirnya menemukan jalannya. (Red)

#KisahHajiInspiratif

#PedagangRujakNaikHaji

#PerjuanganNaikHajiIndonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *