Relta Post, Surabaya – Ketegangan antara kepentingan tata kelola kota dan ruang kebudayaan kembali mencuat di Surabaya. Polemik seputar Balai Pemuda tak sekadar soal pemanfaatan ruang, melainkan menyentuh aspek yang lebih dalam: bagaimana sebuah kota memaknai sejarah dan identitasnya.
Di tengah dinamika tersebut, perbedaan cara pandang menjadi akar persoalan. Pemerintah bergerak dengan logika regulasi dan target, sementara komunitas seni berpijak pada nilai historis dan keberlanjutan ekosistem budaya. Ketika dua pendekatan ini tidak bertemu, yang muncul bukan solusi, melainkan kecurigaan yang terus membesar.
Pengamat kebijakan publik, Rokim, memprediksi situasi ini belum akan mereda dalam waktu dekat. Beragam respons, mulai dari pernyataan sikap hingga aksi simbolik, diperkirakan akan terus bermunculan sebagai bentuk ekspresi keberatan dari komunitas.
“Hari-hari ke depan, estimasi Rokim, mungkin akan diwarnai beraneka retorika. Pernyataan sikap, aksi simbolik, hingga narasi perlawanan akan terus menguat. Namun, lanjutnya, sejarah memberikan pelajaran, bahwa benturan terbuka jarang melahirkan solusi yang berkelanjutan. Yang lebih dibutuhkan adalah ruang temu.”
Menurutnya, pendekatan konfrontatif justru berpotensi memperpanjang konflik. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang tidak berhenti pada formalitas, tetapi benar-benar menghadirkan ruang dialog yang substansial.

“Dialog yang tidak sekadar formalitas, tetapi sungguh-sungguh mempertemukan dua kepentingan antara keberlanjutan tata kelola kota dan keberlangsungan ekosistem kebudayaan,” tambahnya.
Dalam konteks ini, pemerintah kota dinilai perlu melihat Balai Pemuda bukan semata sebagai aset yang bisa diatur ulang pemanfaatannya. Ruang tersebut memiliki nilai simbolik sebagai bagian dari memori kolektif warga.
Di sisi lain, komunitas seni juga didorong untuk memperkuat strategi komunikasi agar gagasan yang dibangun tidak hanya berputar di lingkar internal, tetapi mampu memengaruhi arah kebijakan.
Isu ini pada akhirnya melampaui soal siapa yang berhak menggunakan ruang. Lebih dari itu, yang dipertaruhkan adalah cara Surabaya merawat ingatan kotanya sendiri.
Balai Pemuda, dengan sejarah panjangnya, telah menjadi titik temu berbagai ekspresi kreatif dan interaksi sosial. Mengosongkan ruang tersebut tanpa dialog yang memadai berisiko menghilangkan sebagian makna yang selama ini hidup di dalamnya.
Situasi ini menempatkan semua pihak pada pilihan yang tidak sederhana: melanjutkan ketegangan atau membuka ruang percakapan. Sebab, dampaknya bukan hanya pada satu lokasi, tetapi juga pada wajah kebudayaan Surabaya di masa depan. (Red)
#BalaiPemuda
#Surabaya
#KebijakanBudaya












